1. Seseorang yang mencintai kamu, tidak bisa memberikan alasan mengapa ia mencintaimu. Dia hanya tau, di mata dia, kamulah satu satunya.
2. Seseorang yang mencintai kamu, sebenarnya selalu membuatmu marah/gila/jengkel/stress. Tapi ia tidak pernah tau hal bodoh apa yang sudah ia lakukan, karena semua yang ia lakukan adalah untuk kebaikanmu.
3. Seseorang yg mencintai kamu, jarang memujimu, tetapi di dalam hatinya kamu adalah yg terbaik, hanya ia yang tau.
4. Seseorang yg mencintai kamu, akan marah-marah atau mengeluh jika kamu tidak membalas pesannya atau telponnya, karena ia peduli dan ia tidak ingin sesuatu terjadi padamu.
5. Seseorang yg mencintai kamu, hanya menjatuhkan airmatanya di hadapanmu. Ketika kamu mencoba untuk menghapus air matanya, kamu telah menyentuh hatinya, dimana hatinya selalu berdegup/berdenyut /bergetar untuk kamu.
6. Seseorang yang mencintai kamu, akan mengingat setiap kata yang kamu ucapkan, bahkan yang tidak sengaja dan ia akan selalu menggunakan kata-kata itu tepat waktunya.
7. Seseorang yang mencintai kamu, tidak akan memberikan janji apa pun dengan mudah, karena ia tidak mau mengingkari janjinya. Ia ingin kamu untuk mempercayainya dan ia ingin memberikan hidup yang paling bahagia dan aman selama-lamanya.
8. Seseorang yang mencintai kamu, mungkin tidak bisa mengingat kejadian/kesempatan istimewa, seperti perayaan hari ulang tahunmu, tapi ia tau bahwa setiap detik yang ia lalui, ia mencintai kamu, tidak peduli hari apakah hari ini.
9. Seseorang yang mencintai kamu, tidak mau berkata "Aku mencintaimu" dengan mudah, karena segalanya yang ia lakukan untuk kamu adalah untuk menunjukkan bahwa ia siap mencintaimu, tetapi hanya ia yang akan mengatakan kata "I Love You" pada situasi yang spesial, karena ia tidak mau kamu salah mengerti, dia mau kamu mengetahui bahwa ia mencintai dirimu.
10. Seseorang yang benar-benar mencintai kamu, akan merasa bahwa sesuatu harus dikatakan sekali saja karena ia berpikir bahwa kamu telah mengerti dirinya. Jika berkata terlalu banyak, ia akan merasa bahwa tidak ada yang akan membuatnya bahagia/tersenyum.
11. Seseorang yang mencintai kamu, akan pergi ke airport untuk menjemput kamu, dia tidak akan membawa seikat mawar dan memanggilmu sayang seperti yang kamu harapkan. Tetapi, ia akan membawakan kopermu dan menanyakan: Mengapa kamu menjadi lebih kurus dalam waktu 2 hari? Dengan hatinya yang tulus.
12. Seseorang yang mencintai kamu, tidak tahu apakah ia harus menelponmu ketika kamu marah, tetapi ia akan mengirimkan pesan setelah beberapa jam. Jika kamu menanyakan: mengapa ia terlambat menelepon, ia akan berkata: Ketika kamu marah penjelasan dari dirinya semua hanyalah sampah. Tetapi, ketika kamu sudah tenang, penjelasannya baru akan benar-benar bekerja/manjur/berguna.
13. Seseorang yang mencintaimu, akan selalu menyimpan semua benda yang telah kamu berikan, bahkan kertas kecil bertuliskan ' I LOVE U ' ada di dalam dompetnya dan Seseorang yg mencintaimu, jarang mengatakan kata-kata manis. Tapi kamu tau, 'kecupannya' sudah menyalurkan semua.
14. Seseorang yang mencintai kamu akan selalu berusaha membuatmu tersenyum dan tertawa walau terkadang caranya membingungkanmu.
15. Seseorang yang mencintaimu akan membalut hatimu yang pernah terluka dan menjaganya dengan setulus hati agar tidak terluka lagi...dan ia akan memberikanmu yang terbaik walau harus menyakiti hatinya sendiri
16. Seseorang yang mencintaimu, akan rela melepaskanmu pergi bila bersamanya kamu tidak bahagia, dan ia akan ikut bahagia walau kamu yang dicintainya bahagia bersama orang lain
Tuesday, January 5, 2010
cinta
Bila telapak tanganmu berkeringat, hatimu dag dig dug, suaramu bagai tersangkut, itu bukan cinta tapi suka.
Bila tanganmu tak dapat berhenti memegang dan menyentuhnya, itu bukan cinta tapi birahi.
Bila kamu menginginkannya karena kamu tau dia akan selalu ada disampingmu, itu bukan cinta tapi kesepian.
Bila kamu menerima cintanya karna tak mau menyakiti hatinya, itu bukan cinta tapi kasihan.
Bila kamu bersedia memberi semua yg kamu sukai demi dia, itu bukan cinta tapi kemurahan hati.
Bila kamu bangga dan ingin memamerkan ke semua orang, itu bukan cinta tapi kemujuran.
Bila kamu mengatakan pada dia bahwa ia satu2nya hal yang kmu pikirkan, itu bukan cinta tapi gombal.
Kamu mencintai dia...ketika kamu menerima kesalahan dia, karna itu adalah bagian dr kepribadiannya...ketika kamu rela memberikan hatimu, kehidupanmu, bahkan kematianmu.
Cinta adalah pengorbanan, mencintai berarti memeri diri.
Cinta adalah kematian egoisme dan egosentrisme.
Kadang menyakitkan, tapi itulah cinta.
Itulah harga yang harus dibayar utk sebuah cinta.
Cinta yg sebenarnya adl ketika kmu menitikkan air mata...masih peduli terhadapnya adalah ketika dia tak mempedulikanmu dan kamu masih menunggunya dengan setia....adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum dan berkata 'aku turut berbahagia untukmu'.
Bila cinta tdk bertemu, bebaskan dirimu, biarkan dirimu ke alam bebas lagi.
Kamu mungkin menyadari bahwa kamu menemukan cinta dan kehilangannya.
Tapi ketika cinta itu mati, kamu tidak perlu mati bersama cinta itu.
Mungkin akan tiba saatnya dimana kamu harus berhenti mencintai seseorang, bukan karna orang itu berhenti mencintai kita melainkan karna kita menyadari bahwa orang itu akan lebih bahagia bila kita melepaskannya.
Namun bila kita benar2 mencintai seseorang, jangan lepaskan dia!!!
Bila dia tdk membalasmu, barangkali dia tengah ragu dan mencari.
Jangan percaya bahwa melepaskan berarti kamu benar2 mencintai tanpa suatu balasan.
Mengapa tak berjuang demi cintamu?
Mungkin itulah cinta sejatimu.
Kadang kala orang yg mencintaimu adalah org yg tak pernah menyatakan cintanya padamu, krn takut kau berpaling dan memberi jarak.
Dan bila suatu saat dia pergi, kau akan menyadari bahwa dialah cinta yg tak kau sadari.
Maka, mengapa kau tak mengungkapkan cintamu???
Bila memang kau mencitainya, meskipun kau tdk tau apakah cinta itu ada padanya.
Lebih menyakitkan menangis dalam hati dari pada menangis tersedu-sdu.
Air mata yg keluar dapat dihapus sementara air mata yg tersembunyi menggoreskan luka di hatimu yg takkan pernah hilang.
Sayangnya dalam cinta kita jarang peduli.
Tapi ketika cinta itu tulus, meskipun kau acuhkan, cinta itu tetap mulia.
Dan kamu harusnya bahagia, hatimu dpt mencintai seseorang yg kamu sayang.
Mencintai adalah...bukan bagaimana kau melupakan, tapi bagaimana kau memaafkan...bukan bagaimana kau mendengarkan, melainkan bagaimana kau merasakan...bukanlah apa yg kau lihat, melainkan apa yg kau rasa...bukanlah bagaimana kau melepaskan, tapi bagaimana kau bertahan.
Bila tanganmu tak dapat berhenti memegang dan menyentuhnya, itu bukan cinta tapi birahi.
Bila kamu menginginkannya karena kamu tau dia akan selalu ada disampingmu, itu bukan cinta tapi kesepian.
Bila kamu menerima cintanya karna tak mau menyakiti hatinya, itu bukan cinta tapi kasihan.
Bila kamu bersedia memberi semua yg kamu sukai demi dia, itu bukan cinta tapi kemurahan hati.
Bila kamu bangga dan ingin memamerkan ke semua orang, itu bukan cinta tapi kemujuran.
Bila kamu mengatakan pada dia bahwa ia satu2nya hal yang kmu pikirkan, itu bukan cinta tapi gombal.
Kamu mencintai dia...ketika kamu menerima kesalahan dia, karna itu adalah bagian dr kepribadiannya...ketika kamu rela memberikan hatimu, kehidupanmu, bahkan kematianmu.
Cinta adalah pengorbanan, mencintai berarti memeri diri.
Cinta adalah kematian egoisme dan egosentrisme.
Kadang menyakitkan, tapi itulah cinta.
Itulah harga yang harus dibayar utk sebuah cinta.
Cinta yg sebenarnya adl ketika kmu menitikkan air mata...masih peduli terhadapnya adalah ketika dia tak mempedulikanmu dan kamu masih menunggunya dengan setia....adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum dan berkata 'aku turut berbahagia untukmu'.
Bila cinta tdk bertemu, bebaskan dirimu, biarkan dirimu ke alam bebas lagi.
Kamu mungkin menyadari bahwa kamu menemukan cinta dan kehilangannya.
Tapi ketika cinta itu mati, kamu tidak perlu mati bersama cinta itu.
Mungkin akan tiba saatnya dimana kamu harus berhenti mencintai seseorang, bukan karna orang itu berhenti mencintai kita melainkan karna kita menyadari bahwa orang itu akan lebih bahagia bila kita melepaskannya.
Namun bila kita benar2 mencintai seseorang, jangan lepaskan dia!!!
Bila dia tdk membalasmu, barangkali dia tengah ragu dan mencari.
Jangan percaya bahwa melepaskan berarti kamu benar2 mencintai tanpa suatu balasan.
Mengapa tak berjuang demi cintamu?
Mungkin itulah cinta sejatimu.
Kadang kala orang yg mencintaimu adalah org yg tak pernah menyatakan cintanya padamu, krn takut kau berpaling dan memberi jarak.
Dan bila suatu saat dia pergi, kau akan menyadari bahwa dialah cinta yg tak kau sadari.
Maka, mengapa kau tak mengungkapkan cintamu???
Bila memang kau mencitainya, meskipun kau tdk tau apakah cinta itu ada padanya.
Lebih menyakitkan menangis dalam hati dari pada menangis tersedu-sdu.
Air mata yg keluar dapat dihapus sementara air mata yg tersembunyi menggoreskan luka di hatimu yg takkan pernah hilang.
Sayangnya dalam cinta kita jarang peduli.
Tapi ketika cinta itu tulus, meskipun kau acuhkan, cinta itu tetap mulia.
Dan kamu harusnya bahagia, hatimu dpt mencintai seseorang yg kamu sayang.
Mencintai adalah...bukan bagaimana kau melupakan, tapi bagaimana kau memaafkan...bukan bagaimana kau mendengarkan, melainkan bagaimana kau merasakan...bukanlah apa yg kau lihat, melainkan apa yg kau rasa...bukanlah bagaimana kau melepaskan, tapi bagaimana kau bertahan.
Friday, December 11, 2009
Lelaki Itu Berjanji Untuk Mau
Ustadz: Ahmad Zairofi AM
Lelaki itu menemui Rasulullah. Meski bukan datang sebagai orang
baik-baik, tapi tekadnya sudah bulat: mengucapkan syahadat. Padahal,
mencuri, mabuk, hanyalah sebagian dari kebiasaan buruknya selama ini.
"Aku punya kebiasaan buruk yang sulit sekali aku tinggalkan," keluhnya
kepada Rasulullah usai masuk Islam.
Rasulullah menjawab, "Maukah kamu berjanji kepadaku untuk tidak berbohong?"
Rasulullah memberi solusi. Hanya itu permintaannya. Mau berjanji untuk
tidak bohong.
"Ya, mau. Aku berjanji untuk tidak berbohong," jawab lelaki itu. Setelah
itu ia beranjak pergi. Ia berkata, "Alangkah mudahnya permintaan Rasul
mulia ini. Hanya berjanji untuk tidak berbohong."
Beberapa waktu kemudian, keinginan mencurinya kambuh. Namun, ketika
hendak mencuri, ia teringat janjinya, "Kalau aku mencuri, lalu aku
ditanya Rasul, bagaimana aku akan menjawab? Kalau aku jawab "ya", bahwa
aku telah mencuri, berarti aku akan mendapat hukuman. Kalau aku jawab
"tidak", maka berarti aku telah berbohong, padahal aku telah berjanji
untuk tidak berbohong. Maka lebih baik bagiku meninggalkan mencuri."
Begitu juga ketika keinginan untuk mabuk datang, pertanyaan itu muncul
lagi. Sampai akhirnya, ia benar-benar menjadi seorang Muslim yang taat.
Lelaki itu adalah kisah tentang menjadi jujur hanyalah soal mau. Ia
tidak perlu ilmu yang rumit, teori yang panjang atau lebar. Dan hanya
dengan komitmen kepada kejujuran, ia mengubah hidupnya sedemikian jauh.
Dari dahulunya seorang pencuri, menjadi seorang yang taat dan penjuang
Islam.
Lelaki itu berjanji untuk mau. Mau meninggalkan dusta. Hanya itu
syaratnya, hanya itu permintaan yang harus diembannya. Ia tidak berjanji
dulu untuk bisa, sebab untuk bisa perlu proses. Bila setelah masuk Islam
ia harus bisa banyak hal tentang menjalankan ajaran Islam, maka ia perlu
belajar, ia perlu mengetahui banyak hal. Tetapi selalu ada kadar minimal
yang harus ia bisa dan tahu dari menjadi Muslim. Sebab ajaran Islam yang
pokok tidaklah rumit, tidak juga banyak. Maka kebiasaan yang sedikit
tentang ajaran Islam tidak terlalu berpengaruh. Terutama bagi prosesnya
untuk menjalani kewajiban sebagai Muslim. Tetapi bila masalahnya adalah
bohong, dusta, kianat, yang diperlukan hanya satu hal, kemauan untuk
meninggalkannya. Tetapi efeknya akan sangat besar. Maka bila kemauan
untuk meninggalkan dusta itu hanya sedikit, akan sangat besar pengaruh
buruknya.
Bisa, sering identik dengan pengetahuan yang diperlukan atau
keterampilan yang harus dimiliki. Tapi "mau", identik dengan kekuatan
kehendak, kegigihan yang dipegang, dan juga pilihan untuk mencintai apa
yang diyakini itu agar menjadi nyata.
Bila kebisaan dalam sebuah profesi terkait dengan ilmu, pengetahuan,
keterampilan, maka alangkah melimpahnya orang-orang itu. Bila kemauan
identik dengan pilihan untuk memilih yang baik, jujur, tidak berkianat
atas amanah, alangkah sedikitnya orang-orang itu. Ya, alangkah banyak
orang-orang yang bisa, tetapi sangat sedikit orang yang mau. Alangkah
banyak orang yang pintar, tapi sangat sedikit orang yang jujur.
Setiap kita memikul beban amanah yang berbeda-beda. Beda ruang lingkup,
beda pengetahuan, beda berat dan ringannya. Tetapi semua memerlukan satu
prinsip yang sama, amanah itu harus ditunaikan dengan jujur, benar, dan
jauh dari pengkhianatan.
Di zaman yang semakin tua, jujur nampak menjadi tema yang semakin tidak
populer, karena kian langka pemeluknya. Selain itu, menjadi jujur atau
tidak jujur, kadang-kadang dikaitkan dengan keberlangsungan hidup.
Karena itu jauh-jauh hari Rasulullah mengingatkan, "/Peganglah selalu
kejujuran. Meski dengan memegang kejujuran itu kamu terlihat akan
celaka, sesungguhnya di dalamnya ada keselamatan. Dan jauhilah olehmu
dusta, meski dengan dusta itu kamu lihat akan selamat, sesungguhnya di
dalamnya ada celaka./"
Seperti serat-serat saraf yang ada dalam tubuh kita. Jujur secara
kekuatan ada di dalam jiwa kita, geloranya tidak terlihat, tapi sangat
vital fungsinya. Karenanya, seperti ditegaskan Rasulullah, amanah yang
disia-siakan akan melahirkan kehancuran.
Allah SWT dengan tegas meminta kita menjalankan setiap amanah dengan
baik. "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang
berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di
antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah
memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah
adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (/QS. An-Nisa': 58/)
Imam Ibnu Katsir mengatakan, bahwa perintah jujur dalam amanah ini
berlaku dalam segala bentuk amanat yang diwajibkan kepada manusia.
Bentuknya ada dua. Yaitu hak-hak Allah, seperti shalat, puasa dan
semisalnya. Dan kedua, hak-hak sesama manusia.
Dalam ayat yang lain, Allah menegaskan larangan berkhianat. "Hai
orang-orang beriman, janganlah kamu,mengkhianati Allah dan Rasul
(Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang
dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.' (/QS. Al-Anfal: 27/).
Menurut Imam Ibnu Katsir, khianat itu meliputi dosa besar dan dosa
kecil. Sementara Ibnu Abbas menjelaskan, yang dimaksud amanat adalah
pekerjaan-pekerjaan yang diamanatkan sesama manusia kepada kita.
Imam Qurthubi berkata, "Ayat yang berbicara tentang amanah di dalam
AL-Qur'an itu meliputi segala tugas keagamaan maupun selain itu yang
masuk dalam kategori amanah. Juga meliputi nikmat dan karunia apa saja
yang telah diberikan Allah kepadamu, itu adalah amanah yang harus dijaga
dan digunakan sesuai dengan kehendak yang memberikan amanah itu, yaitu
Allah SWT. Maka mata itu amanah, telinga itu amanah. Kamu harus menjaga
kehormatanmu, jangan engkau hinakan. Jaga jiwa kamu dari perbuatan
nista. Begitu juga apa saja yang ada dalam kekuasaanmu, itu adalah
amanah. Kamu harus menjaganya dari terjerumus ke dalam kenistaan."
Oleh sebab itu, dalam tataran kekuasaan, di mana seseorang mendapat
amanah yang di tangannya banyak berkaitan nasib orang banyak, ancaman
orang-orang yang berkhianat jenis ini sangat berat. Rasulullah
menegaskan, "Tidaklah seseorang menjadi penanggung jawab urusan rakyat,
lalu ia mati dalam keadaan menipu dan berkhianat kepada orang-orang yang
memberinya amanah, kecuali akan diharamkan baginya syurga." (/HR. Bukhari/)
Lebih jauh, kelak, orang-orang yang berkhianat di hari kiamat akan
memiliki bendera. Tertulis dalam bendera itu, "Ini adalah pengkhianat
bagi si fulan."
Terlalu banyak orang-orang yang tahu, tapi sangat sedikit dari kita yang
mau. Dari lelaki yang dulu pemabuk dan pencuri itu, kita belajar
bagaimana "kekuatan mau" mengalahkan "keterbatasan bisa". Orang-orang
pintar boleh bangga dengan kesuksesan, tapi hanya orang-orang jujur yang
bisa merasakan kebahagiaan. Orang-orang pintar boleh senang dengan
kemelimpahan, tapi hanya orang-orang jujur yang akan menemukan ketenangan.
Ya, menjadi_*/ jujur bukan soal bisa atau tidak, tetapi apakah mau atau
tidak/*_.
Lelaki itu menemui Rasulullah. Meski bukan datang sebagai orang
baik-baik, tapi tekadnya sudah bulat: mengucapkan syahadat. Padahal,
mencuri, mabuk, hanyalah sebagian dari kebiasaan buruknya selama ini.
"Aku punya kebiasaan buruk yang sulit sekali aku tinggalkan," keluhnya
kepada Rasulullah usai masuk Islam.
Rasulullah menjawab, "Maukah kamu berjanji kepadaku untuk tidak berbohong?"
Rasulullah memberi solusi. Hanya itu permintaannya. Mau berjanji untuk
tidak bohong.
"Ya, mau. Aku berjanji untuk tidak berbohong," jawab lelaki itu. Setelah
itu ia beranjak pergi. Ia berkata, "Alangkah mudahnya permintaan Rasul
mulia ini. Hanya berjanji untuk tidak berbohong."
Beberapa waktu kemudian, keinginan mencurinya kambuh. Namun, ketika
hendak mencuri, ia teringat janjinya, "Kalau aku mencuri, lalu aku
ditanya Rasul, bagaimana aku akan menjawab? Kalau aku jawab "ya", bahwa
aku telah mencuri, berarti aku akan mendapat hukuman. Kalau aku jawab
"tidak", maka berarti aku telah berbohong, padahal aku telah berjanji
untuk tidak berbohong. Maka lebih baik bagiku meninggalkan mencuri."
Begitu juga ketika keinginan untuk mabuk datang, pertanyaan itu muncul
lagi. Sampai akhirnya, ia benar-benar menjadi seorang Muslim yang taat.
Lelaki itu adalah kisah tentang menjadi jujur hanyalah soal mau. Ia
tidak perlu ilmu yang rumit, teori yang panjang atau lebar. Dan hanya
dengan komitmen kepada kejujuran, ia mengubah hidupnya sedemikian jauh.
Dari dahulunya seorang pencuri, menjadi seorang yang taat dan penjuang
Islam.
Lelaki itu berjanji untuk mau. Mau meninggalkan dusta. Hanya itu
syaratnya, hanya itu permintaan yang harus diembannya. Ia tidak berjanji
dulu untuk bisa, sebab untuk bisa perlu proses. Bila setelah masuk Islam
ia harus bisa banyak hal tentang menjalankan ajaran Islam, maka ia perlu
belajar, ia perlu mengetahui banyak hal. Tetapi selalu ada kadar minimal
yang harus ia bisa dan tahu dari menjadi Muslim. Sebab ajaran Islam yang
pokok tidaklah rumit, tidak juga banyak. Maka kebiasaan yang sedikit
tentang ajaran Islam tidak terlalu berpengaruh. Terutama bagi prosesnya
untuk menjalani kewajiban sebagai Muslim. Tetapi bila masalahnya adalah
bohong, dusta, kianat, yang diperlukan hanya satu hal, kemauan untuk
meninggalkannya. Tetapi efeknya akan sangat besar. Maka bila kemauan
untuk meninggalkan dusta itu hanya sedikit, akan sangat besar pengaruh
buruknya.
Bisa, sering identik dengan pengetahuan yang diperlukan atau
keterampilan yang harus dimiliki. Tapi "mau", identik dengan kekuatan
kehendak, kegigihan yang dipegang, dan juga pilihan untuk mencintai apa
yang diyakini itu agar menjadi nyata.
Bila kebisaan dalam sebuah profesi terkait dengan ilmu, pengetahuan,
keterampilan, maka alangkah melimpahnya orang-orang itu. Bila kemauan
identik dengan pilihan untuk memilih yang baik, jujur, tidak berkianat
atas amanah, alangkah sedikitnya orang-orang itu. Ya, alangkah banyak
orang-orang yang bisa, tetapi sangat sedikit orang yang mau. Alangkah
banyak orang yang pintar, tapi sangat sedikit orang yang jujur.
Setiap kita memikul beban amanah yang berbeda-beda. Beda ruang lingkup,
beda pengetahuan, beda berat dan ringannya. Tetapi semua memerlukan satu
prinsip yang sama, amanah itu harus ditunaikan dengan jujur, benar, dan
jauh dari pengkhianatan.
Di zaman yang semakin tua, jujur nampak menjadi tema yang semakin tidak
populer, karena kian langka pemeluknya. Selain itu, menjadi jujur atau
tidak jujur, kadang-kadang dikaitkan dengan keberlangsungan hidup.
Karena itu jauh-jauh hari Rasulullah mengingatkan, "/Peganglah selalu
kejujuran. Meski dengan memegang kejujuran itu kamu terlihat akan
celaka, sesungguhnya di dalamnya ada keselamatan. Dan jauhilah olehmu
dusta, meski dengan dusta itu kamu lihat akan selamat, sesungguhnya di
dalamnya ada celaka./"
Seperti serat-serat saraf yang ada dalam tubuh kita. Jujur secara
kekuatan ada di dalam jiwa kita, geloranya tidak terlihat, tapi sangat
vital fungsinya. Karenanya, seperti ditegaskan Rasulullah, amanah yang
disia-siakan akan melahirkan kehancuran.
Allah SWT dengan tegas meminta kita menjalankan setiap amanah dengan
baik. "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang
berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di
antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah
memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah
adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (/QS. An-Nisa': 58/)
Imam Ibnu Katsir mengatakan, bahwa perintah jujur dalam amanah ini
berlaku dalam segala bentuk amanat yang diwajibkan kepada manusia.
Bentuknya ada dua. Yaitu hak-hak Allah, seperti shalat, puasa dan
semisalnya. Dan kedua, hak-hak sesama manusia.
Dalam ayat yang lain, Allah menegaskan larangan berkhianat. "Hai
orang-orang beriman, janganlah kamu,mengkhianati Allah dan Rasul
(Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang
dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.' (/QS. Al-Anfal: 27/).
Menurut Imam Ibnu Katsir, khianat itu meliputi dosa besar dan dosa
kecil. Sementara Ibnu Abbas menjelaskan, yang dimaksud amanat adalah
pekerjaan-pekerjaan yang diamanatkan sesama manusia kepada kita.
Imam Qurthubi berkata, "Ayat yang berbicara tentang amanah di dalam
AL-Qur'an itu meliputi segala tugas keagamaan maupun selain itu yang
masuk dalam kategori amanah. Juga meliputi nikmat dan karunia apa saja
yang telah diberikan Allah kepadamu, itu adalah amanah yang harus dijaga
dan digunakan sesuai dengan kehendak yang memberikan amanah itu, yaitu
Allah SWT. Maka mata itu amanah, telinga itu amanah. Kamu harus menjaga
kehormatanmu, jangan engkau hinakan. Jaga jiwa kamu dari perbuatan
nista. Begitu juga apa saja yang ada dalam kekuasaanmu, itu adalah
amanah. Kamu harus menjaganya dari terjerumus ke dalam kenistaan."
Oleh sebab itu, dalam tataran kekuasaan, di mana seseorang mendapat
amanah yang di tangannya banyak berkaitan nasib orang banyak, ancaman
orang-orang yang berkhianat jenis ini sangat berat. Rasulullah
menegaskan, "Tidaklah seseorang menjadi penanggung jawab urusan rakyat,
lalu ia mati dalam keadaan menipu dan berkhianat kepada orang-orang yang
memberinya amanah, kecuali akan diharamkan baginya syurga." (/HR. Bukhari/)
Lebih jauh, kelak, orang-orang yang berkhianat di hari kiamat akan
memiliki bendera. Tertulis dalam bendera itu, "Ini adalah pengkhianat
bagi si fulan."
Terlalu banyak orang-orang yang tahu, tapi sangat sedikit dari kita yang
mau. Dari lelaki yang dulu pemabuk dan pencuri itu, kita belajar
bagaimana "kekuatan mau" mengalahkan "keterbatasan bisa". Orang-orang
pintar boleh bangga dengan kesuksesan, tapi hanya orang-orang jujur yang
bisa merasakan kebahagiaan. Orang-orang pintar boleh senang dengan
kemelimpahan, tapi hanya orang-orang jujur yang akan menemukan ketenangan.
Ya, menjadi_*/ jujur bukan soal bisa atau tidak, tetapi apakah mau atau
tidak/*_.
Thursday, October 29, 2009
i have been there
No I ain't had nothing to drink
I knew thats probably what you'd think
If I dropped by this time of night
Remember way back when
I promised you I'd drop in
At one of those meetings down at the Y
Well, they started talkin bout steps you take
Mistakes you make
The hearts you break
And the price you pay
I almost walked away
You could hear a pin drop
When this old man
Stood up and said I'm gonna' say it again
Like I do every week
For those who don't know me
It's the simple things in life
Like the kids at home and a loving wife
That you miss the most, when you lose control
And everything you love starts to disappear
The devil takes your hand and says no fear
Have another shot, just one more beer
Yah, I've been there, that's why I'm here
This ole boy stood up in the aisle
Said he'd been living a life of denial
And he cried as he talked about wasted years
I couldn't believe what I heard
It was my life word for word
And all of the sudden it was clear
It's the simple things in life
Like the kids at home and a loving wife
That you miss the most, when you lose control
And everything you love starts to disappear
The devil takes your hand and says no fear
Have another shot, just one more beer
Yah, I've been there, that's why I'm here
I know for us it may be too late
But it would mean the world to me
If you were there when I stand to say
It's the simple things in life
Like the kids at home and a loving wife
That you miss the most, when you lose control
And everything you love starts to disappear
The devil takes your hand and says no fear
Have another shot, just one more beer
Yah, I've been there, that's why I'm here
Oh, I've been there, that's why I'm here
I knew thats probably what you'd think
If I dropped by this time of night
Remember way back when
I promised you I'd drop in
At one of those meetings down at the Y
Well, they started talkin bout steps you take
Mistakes you make
The hearts you break
And the price you pay
I almost walked away
You could hear a pin drop
When this old man
Stood up and said I'm gonna' say it again
Like I do every week
For those who don't know me
It's the simple things in life
Like the kids at home and a loving wife
That you miss the most, when you lose control
And everything you love starts to disappear
The devil takes your hand and says no fear
Have another shot, just one more beer
Yah, I've been there, that's why I'm here
This ole boy stood up in the aisle
Said he'd been living a life of denial
And he cried as he talked about wasted years
I couldn't believe what I heard
It was my life word for word
And all of the sudden it was clear
It's the simple things in life
Like the kids at home and a loving wife
That you miss the most, when you lose control
And everything you love starts to disappear
The devil takes your hand and says no fear
Have another shot, just one more beer
Yah, I've been there, that's why I'm here
I know for us it may be too late
But it would mean the world to me
If you were there when I stand to say
It's the simple things in life
Like the kids at home and a loving wife
That you miss the most, when you lose control
And everything you love starts to disappear
The devil takes your hand and says no fear
Have another shot, just one more beer
Yah, I've been there, that's why I'm here
Oh, I've been there, that's why I'm here
janji suci
Dengarkanlah wanita pujaanku
Malam ini akan kusampaikan
Hasrat suci kepadamu dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin, mempersuntingmu
Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Dengarkanlah wanita impianku
Malam ini akan kusampaikan
Janji suci satu untuk selamanya
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin, mempersuntingmu
Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Akulah yang terbaik untukmu…
Malam ini akan kusampaikan
Hasrat suci kepadamu dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin, mempersuntingmu
Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Dengarkanlah wanita impianku
Malam ini akan kusampaikan
Janji suci satu untuk selamanya
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin, mempersuntingmu
Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Akulah yang terbaik untukmu…
Wednesday, October 28, 2009
MENGALIR SEPERTI AIR
Seorang pria mendatangi seorang Guru. Katanya, "Guru, saya sudah bosan hidup.
Benar-benar jenuh. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang
saya lakukan selalu gagal. Saya ingin mati."
Sang Guru tersenyum, "Oh, kamu sakit."
"Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu
sebabnya saya ingin mati."
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan, "Kamu sakit. Dan
penyakitmu itu bernama, 'Alergi Hidup'. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan."
Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa
disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup
ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita
menginginkan keadaan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut
mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Penolakan
kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit.
Usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil itu
memang wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi dalam
hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan
suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.
"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin sembuh
dan bersedia mengikuti petunjukku." kata sang Guru.
"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin
hidup." Pria itu menolak tawaran sang Guru.
"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?"
"Ya, memang saya sudah bosan hidup."
"Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Malam
nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisasnya kau minum
besok sore jam enam. Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan tenang."
Kini, giliran pria itu menjadi bingung. Sebelumnya, semua Guru yang ia datangi
selalu berupaya untuk memberikan semangat hidup. Namun, Guru yang satu ini aneh.
Alih-alih memberi semangat hidup, malah menawarkan racun. Tetapi, karena ia
memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.
Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut
"obat" oleh sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan ketenangan yang tidak pernah ia
rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! Tinggal 1 malam, 1 hari, dan
ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.
Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang.
Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Ini adalah
malam terakhirnya. Ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia
bersenda gurau. Suasananya amat harmonis. Sebelum tidur, ia mencium bibir
istrinya dan berbisik, "Sayang, aku mencintaimu." Sekali lagi, karena malam itu
adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!
Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar.
Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan
pagi. Setengah jam kemudian ia kembali ke rumah, ia menemukan istrinya masih
tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu
untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir,
ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali,
"Sayang, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku,
sayang."
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun
bingung, "Hari ini, Bos kita kok aneh ya?" Dan sikap mereka pun langsung
berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia
ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya
berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan menghargai terhadap
pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai
menikmatinya.
Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda
depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, "Sayang,
sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu."
Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, "Ayah, maafkan kami semua. Selama ini,
ayah selalu tertekan karena perilaku kami."
Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat
indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan
setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya?
Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru
langsung mengetahui apa yang telah terjadi, "Buang saja botol itu. Isinya air
biasa. Kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup
dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan
menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu.
Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau
tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia
kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan."
Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah,
untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia
tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia,
selalu tenang, selalu HIDUP!
(dikutip dari REKAN-KANTOR eNEWSLETTER)
Benar-benar jenuh. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang
saya lakukan selalu gagal. Saya ingin mati."
Sang Guru tersenyum, "Oh, kamu sakit."
"Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu
sebabnya saya ingin mati."
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan, "Kamu sakit. Dan
penyakitmu itu bernama, 'Alergi Hidup'. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan."
Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa
disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup
ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita
menginginkan keadaan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut
mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Penolakan
kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit.
Usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil itu
memang wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi dalam
hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan
suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.
"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin sembuh
dan bersedia mengikuti petunjukku." kata sang Guru.
"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin
hidup." Pria itu menolak tawaran sang Guru.
"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?"
"Ya, memang saya sudah bosan hidup."
"Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Malam
nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisasnya kau minum
besok sore jam enam. Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan tenang."
Kini, giliran pria itu menjadi bingung. Sebelumnya, semua Guru yang ia datangi
selalu berupaya untuk memberikan semangat hidup. Namun, Guru yang satu ini aneh.
Alih-alih memberi semangat hidup, malah menawarkan racun. Tetapi, karena ia
memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.
Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut
"obat" oleh sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan ketenangan yang tidak pernah ia
rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! Tinggal 1 malam, 1 hari, dan
ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.
Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang.
Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Ini adalah
malam terakhirnya. Ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia
bersenda gurau. Suasananya amat harmonis. Sebelum tidur, ia mencium bibir
istrinya dan berbisik, "Sayang, aku mencintaimu." Sekali lagi, karena malam itu
adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!
Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar.
Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan
pagi. Setengah jam kemudian ia kembali ke rumah, ia menemukan istrinya masih
tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu
untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir,
ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali,
"Sayang, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku,
sayang."
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun
bingung, "Hari ini, Bos kita kok aneh ya?" Dan sikap mereka pun langsung
berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia
ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya
berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan menghargai terhadap
pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai
menikmatinya.
Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda
depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, "Sayang,
sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu."
Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, "Ayah, maafkan kami semua. Selama ini,
ayah selalu tertekan karena perilaku kami."
Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat
indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan
setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya?
Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru
langsung mengetahui apa yang telah terjadi, "Buang saja botol itu. Isinya air
biasa. Kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup
dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan
menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu.
Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau
tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia
kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan."
Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah,
untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia
tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia,
selalu tenang, selalu HIDUP!
(dikutip dari REKAN-KANTOR eNEWSLETTER)
Friday, October 9, 2009
Ya Allah, jika aku jatuh cinta
Ya Allah, jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada
seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu, agar
bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.
Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku
padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu
Ya Allah, jika aku jatuh hati, izinkanlah aku
menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu,
agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.
Ya Rabbana, jika aku jatuh hati, jagalah hatiku
padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu.
Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu, rindukanlah aku pada
seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.
Ya Allah, jika aku rindu, jagalah rinduku padanya agar
tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.
Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu,
janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya
bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.
Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu, jangan
biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan
panjang menyeru manusia kepada-Mu.
Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu,
jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan
aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.
Ya Allah Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah
berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa pada
taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah pada-MU,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu. Kokohkanlah ya
Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah
jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu
yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami
dengna limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan
bertawakal di jalan-Mu.Amin. ….
seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu, agar
bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.
Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku
padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu
Ya Allah, jika aku jatuh hati, izinkanlah aku
menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu,
agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.
Ya Rabbana, jika aku jatuh hati, jagalah hatiku
padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu.
Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu, rindukanlah aku pada
seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.
Ya Allah, jika aku rindu, jagalah rinduku padanya agar
tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.
Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu,
janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya
bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.
Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu, jangan
biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan
panjang menyeru manusia kepada-Mu.
Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu,
jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan
aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.
Ya Allah Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah
berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa pada
taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah pada-MU,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu. Kokohkanlah ya
Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah
jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu
yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami
dengna limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan
bertawakal di jalan-Mu.Amin. ….
Subscribe to:
Posts (Atom)